Selasa, 18 Maret 2014

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI DASAR LENGKAP



LAPORAN TETAP PRAKTIKUM

MIKROBIOLOGI DASAR

 

DISUSUN OLEH :

 

 

 

 

 

HAMZAN WADI

 

   

 

 

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS MATARAM

2012

 

 

ACARA III

ISOLASI DAN PEMBIAKAN MIKROBA

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

                 Mikroorganisme terdapat dimana-mana, jadi persiapan untuk biakan murni, tidak saja isolasi mikroorganisme tertentu dari populasi mikroba campuran di alam, tetapi juga pemeliharaan individu yang diisolasi itu dan keturunannya pada lingkungan buatan, dan di dalamnya dicegah pemasukan mikroorganisme lain. Mikrooganisme tidak memerlukan banyak ruangan untuk perkembanganny, sebab itu media buatan dapat dimasukkan ke dalam sebuah tabung percobaan, labu, atau cawan petri: ketiga jenis ini sangat umum digunakan untuk membiakkan mikroorganisme. Pada permulaannya bejana biakan harus dijadikan steril (bebas dari  setiap mikroorganisme yang hidup) dan, setelah dimasukkan jenis mikroorganisme yang diinginkan, bejana itu harus dilindungi terhadap kontaminasi yang berikut dari luar.

                 Biakan mikroorganisme yang murni yang membentuk koloni terpisah pada media padat dapat diperoleh dengan salah satu modifikasi metode semai. Metode ini mencakup pemisahan dan pelumpuhan organisme individu di dalam medium zat gizi yang dipadatkan dengan agar atau dengan bahan mengeras lain yang cocok. Setiap organisme yang tumbuh menjadi koloni dan dari sini pemindahan dapat segera dilakukan.

 Tujuan Praktikum

·         Mahasiswa dapat mengetahui pertumbuhan dari masing-masing mikroba yang diisolasi dan diinokulasi pada medium pertumbuhan yang digunakan.

·         Mahasiswa dapat mengetahui media apa saja yang biasa digunakan untuk isolasi dan pembiakan bakteri.

 


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

                 Mikroorganisme tidak memerlukan banyak ruangan untuk perkembangannya, sebab  itu, media buatan dapat dimasukkan ke dalam sebuah tabung percobaan, labu, atau cawan petri. Ketiga jenis ini sangat umum digunakan untuk membiakkan mikroorganisme. Pada permulaannya bejana biakan harus dijadikan steril (bebas dari setiap mikroorganisme yang hidup). Dan setelah dimasukkan jenis mikroorganisme yang diinginkan, bejana itu harus dilindungi terhadap kontaminasi yang berikut dari luar (Stanier, 1982).

                 Jika bakteri ditumbuhkan pada suatu medium kultur di laboratorium, sel  dapat berkelompok satu sama lainnya. Cocci misalnya, dapat bergandengan dalam bentuk rantai (streptococci) atau tersusun dalam suatu kelompok atau staphylococci (Gaman, 1992).

BAB III

MATERI DAN METODE PRAKTIKUM

3.1  Materi Praktikum

A.    Alat praktikum

Adapun alat yang digunakan  dalam praktikum ini adalah :

     1. cawan petri

     2. ose

     3. lampu Bunsen

     4. inkubator

     5.kertas label

B.     Bahan praktikum

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah :

1.      Medium MCA

2.      Bakteri E. coli

3.2  Metode Praktikum

            A.  Isolasi E. Coli (pada medium MCA cawan petri secara goresan)

1.      Sediakan alat dan bahan yang akan digunakan

2.      Medium MCA dicairkan terlebih dahulu

3.      MCA cair dituang dalam cawan petri steril dan dibiarkan hingga memadat

4.      Biakan E. Coli diambil dengan ose bulat dan dipindahkan ke medium MCA dalam cawan petri dengan cara menggoreskan secara langsung, dan kuadran

5.      Ose dipijarkan kembali, dan cawan ditutup dengan baik

6.      Cawan petri dimasukkan dalam incubator dengan posisi terbaik pada suhu 34oC selama 2 x 24 jam

7.      Bersihakan dan kembalikan alat dan bahan praktikum pada tempatnya

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1  Hasil Praktikum

Adapun Hasil Praktikum yang diperoleh adalah sebagai berikut:

1.      Bentuk Bakteri,

Dilihat dari bagian atas cawan petri kemudian dicocokkan dengan gambar yang ada pada buku pedoman praktikum. Maka diperoleh hasil bentuk bulat dengan tepi berserabut.

2.      Warna Bakteri

Dilihat langsung terhadap koloni yang tumbuh pada cawan petri dan diperoeh hasil warna bakteri yaitu di tengah putih dan ditepinya ungu kemerahan.

3.      Margin Bakteri

Dilihat dari bagian samping cawan petri dan diperoleh hasil Margin bakteri yaitu Helus.

4.      Penonjolan

Pada pengamatan penonjolan, yang diamati hanya satu koloni dan diperoleh hasil yaitu Umbonet.

4.2  Pembahasan

Dalam praktikum kali ini dilakukan percobaan mengenai isolasi dan pembiakan mikroba dengan tujuan memindahkan mikroba untuk memperbanyak, selain ditumbuhkan juga perlu dilakukan isolasi.

 Isolasi Mikroba

Beratus-ratus spesies mikroba dapat menghuni berbagai macam bagian tubuh kita, misal: mulut, saluran pencernaan, kulit, dll. Sekali bersin dapat menyebarkan beribu-ribu mikroorganisme. Satu gram kotoran manusia/hewan dapat mengandung jutaan bakteri. Udara, air, tanah, juga dihuni oleh sekumpulan mikroorganisme.

Populasi mikroorganisme tersebut pada umumnya terdapat dalam populasi campuran. Amat jarang mikroorganisme tersebut dijumpai sebagai satu spesies tunggal. Di sisi lain, untuk mencirikan dan mengidentifikasikan suatu spesies mikroorganisme tertentu, yang pertama harus dilakukan adalah memisahkannya dari organisme lain, hingga diperoleh biakan murni. Biakan murni adalah biakan yang sel-selnya berasal dari pembelahan satu sel tunggal.Proses pemisahan/pemurnian dari mikroorganisme lain perlu dilakukan karena semua pekerjaan mikrobiologis, misalnya telaah dan identifikasi mikroorganisme, memerlukan suatu populasi yang hanya terdiri dari satu macam mikroorganisme saja. Teknik tersebut dikenal dengan Isolasai Mikroba. Terdapat berbagai cara mengisolasi mikroba, yaitu: 1) isolasi pada agar cawan, 2) isolasi pada medium cair, dan 3) Isolasi sel tunggal. 

Isolasi pada agar cawan

Prinsip pada metode isolasi pada agar cawan adalah mengencerkan mikroorganisme sehingga diperoleh individu spesies yang dapat dipisahkan dari organisme lainnya. Setiap koloni yang terpisah yang tampak pada cawan tersebut setelah inkubasi berasal dari satu sel tunggal. Terdapat beberapa cara dalam metode isolasi pada agar cawan, yaitu: Metode gores kuadran, dan metode agar cawan tuang Metode gores kuadran. Bila metode ini dilakukan dengan baik akan menghasilkan terisolasinya mikroorganisme, dimana setiap koloni berasal dari satu sel. Setelah diperoleh biakan murni (koloni yang berasal dari sel tunggal), mikroorganisme tersebut siap dilakukan telaah dan identifikasi, dan kemudian ditumbuhkan sesuai tujuan. Pertumbuhan pada mikroorganisme diartikan sebagai penambahan jumlah atau total massa sel yang melebihi inokulum asalnya. Telah dijelaskan pada bahasan sebelumnya, bahwa sistem reproduksi bakteri adalah dengan cara pembelahan biner melintang, satu sel membelah diri menjadi 2 sel anakan yang identik dan terpisah. Selang waktu yang dibutuhkan bagi sel untuk membelah diri menjadi dua kali lipat disebut sebagai waktu generasi. Waktu generasi pada setiap bakteri tidak sama, ada yang hanya memerlukan 20 menit bahkan ada yang memerlukan sampai berjam-jam atau berhari-hari. Bila bakteri diinokulasikan ke dalam medium baru, pembiakan tidak segera terjadi tetapi ada periode penyesuaian pada lingkungan yang dikenal dengan pertumbuhan. Kemudian akan memperbanyak diri (replikasi) dengan laju yang konstan, sehingga akan diperoleh kurva pertumbuhan. Pada kurva pertumbuhan dikenal beberapa fase pertumbuhan yaitu :

a)      Fase lamban

Fase lamban merupakan periode awal dan merupakan fase penyesuaian diri (adaptasi), sehingga tidak ada pertambahan jumlah sel bahkan kadang-kadang jumlah sel menurun.

b)       Fase cepat

Fase cepat merupakan periode pembiakan yang cepat. Pada periode ini dapat teramati ciri-ciri sel yang aktif. Waktu generasi pada setiap bakteri dapat ditentukan pada fase cepat ini. Pada fase tersebut dapat terlihat beberapa sel mulai membelah, yang lainnya setengah membelah, dan yang lainnya lagi selesai membelah.

c)       Fase statis

Pada fase statis pembiakan mulai berkurang dan beberapa sel mati. Apabila laju pembiakan sama dengan laju kematian, maka secara keseluruhan jumlah sel tetap konstan. Hal ini dapat disebabkan karena berkurangnya nutrien ataupun terbentuknya produk metabolisme yang cenderung menumpuk mungkin menjadi racun bagi bakteri yang bersangkutan.

d)     Fase kematian

Fase kematian merupakan fase dimana proses pembiakan telah berhenti. Sel-selnya sudah mati, yang kemudian akan diikuti dengan proses lisis. Apabila laju kematian melampaui laju pembiakan, maka jumlah sel sebenarnya menurun.

 

BAB V

PENUTUP

5.1  Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang sudah dilaksanakan dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1.       Ada beberapa cara untuk menggoreskan kultur pada agar cawan yaitu:

a)      Goresan langsung

b)      Goresan kuadran

c)      Goresan radian

2.      Koloni yang tumbuh pada agar cawan dapat dibedakan berdasarkan besarnya, warna penampakan apakah keruh atau bening, bentuk penyebarannya atau margin dan bentuk kemunculannya di atas agar dan bentuk permukaan.

       5.2  Saran

Untuk mendapatkan hasil praktikum yang baik diharapkan kepada semua praktikan datang tepat waktu, mengikuti praktikum sesuai dengan arahan dari co. assisten dan tata tertib yang ada dan memperhatikan keselamatan kerja selama kegiatan praktikum berlangsung.

 

 

ACARA IV

PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN MIKROBA

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

                 Semua mikroorganisme memerlukan kondisi lingkungan tertentu untuk pertumbuhan  dan perbanyakannya. Terdapat variasi persyaratan pertumbuhan untuk spesies yang berbeda. Laju perbanyakan bakteri variasi menurut spesies dan kondisi pertumbuhannya. Pada kondisi optimal, hamper semua bakteri memperbanyak diri dengan pembelahan biner sekali setiap 20 menit. Faktor lingkungan yang dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroba diantaranya adalah suhu, tekanan osmotik, sinar ultraviolet, dan pH.

                 Tiap-tiap mikroorganisme memiliki suhu pertumbuhan maksimal, suhu pertumbuhan minimal dan suhu pertumbuhan optimal, yaitu suhu yang memberikan pertumbuhan terbaik dan perbanyakan diri tercepat. Suhu optimal biasanya lebih dekat ke suhu maksimal daripada suhu minimal. Mikroorganisme yang mempunyai suhu optimum antara 0-20oC disebut psikofil. Mikroorganisme yang mempunyai suhu optimum antara 20-50oC sedangkan Mikroorganisme yang mempunyai suhu optimum antara 50-100oC disebut thermofil.

                 Tersedianya oksigen juga dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. Bakteri diklasifikasikan menjadi empat kelompok menurut keperluan oksigennya:

a.       Aerob obligat, hanya dapat tumbuh jika terdapat persediaan oksigen yang banyak.

b.      Aerob fakultatif, tumbuh dengan baik jika oksigen cukup, tetapi juga dapat tumbuh secara anaerob

c.       Anaerob obligat, hanya dapat tumbuh jika tidak ada oksigen.

d.      Anaerob fakultatif, tumbuh sangat baik jika tidak ada oksigen, tetapi dapat tumbuh secara aerob.

 

 

1.2  Tujuan Praktikum

·         Mahasiswa dapat mengetahui bagaimana pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan mikroba.

·         Mahasiswa dapat mengetahui klasifikasi mikroorganisme berdasarkan suhu pertumbuhan yang diperlukannya.

 

 

BAB II

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

                 Mikroorganisme dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok berdasarkan suhu pertumbuhan yang diperlukannya (Gaman, 1992).

a)      Psikrofil (organisme yang suka dingin) dapat tumbuh baik pada suhu di bawah 200C, kisaran suhu optimalnya adalah 100C sampai 200C.

b)      Mesofil (organisme yang suka pada suhu sedang) memiliki suhu pertumbuhan optimal antara 200C sampai 450C.

c)      Termofil (organisme yang suka pada suhu tinggi) dapat tumbuh baik pada suhu di atas 450C kisaran pertumbuhan optimalnya adalah 500C sampai 600C.

                 Umumnya cahaya mempunyai daya merusak kepada sel mikroorganisme yang tidak mempunyai pigmen fotosintesa. Sedang cahaya dengan gelombang pendek dapat berpengaruh terhadap jasad hidup. Sinar dengan gelombang panjang juga mempunyai daya foto dinamik dan daya biofisik, misalnya cahaya matahari. Jika energy radiasi diabsorbsi oleh sel mikroorganisme, akan menyebabkan terjadinya ionisasi komponen sel. Ionisasi molekul tertentu dari protoplasma dapat menyebabkan kematian, perubahan genetik atapun dapat pula menghambat pertumbuhan (Suriawiria, 1993).

                 Radiasi mungkin didefinisi sebagai transmisi energy melalui ruangan. Semua bentuk radiasi dapat merusak mikroorganisme, yang menyebabkan kematian atau mutasi. Dua kelompok utama radiasi yang telah digunakan untuk mengendalikan mikroorganisme adalah radiasi pengionan (sinar-X, sinar Gamma dan sinar katode) dan sinar ultraviolet. Jika digunakan dengan intensitas yang cukup, cahaya ultraviolet efektif dalam mematikan bakteri, tetapi mempunyai keterbatasan utama, cahaya ultraviolet telah digunakan untuk mengurangi populasi mikroorganisme di udara dalam ruangan operasi, laboratorium bakteriologi, pabrik roti, rumah makan, dan tempat-tempat makanan lainnya (Volk, 1988).  

BAB III

 

MATERI DAN METODE PRAKTIKUM

 

 

3.1  Materi Praktikum

 

A.    Alat Praktikum

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah :                    

1.      Tabung Reaksi

2.      Kertas label

3.      Kulkas

4.      Incubator

5.      Ose

6.      Alatradiasi UV

 

B.     Bahan Praktikum

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :                                         

1.      NB (Nutrien Broth)

2.      Media NA ( Nutrient Agar)

3.      Bakteri E. Coli

 

      3.2  Metode Praktikum

            A.  Pengaruh Suhu

1.      Sediakan alat dan bahan praktikum

2.      Sediakan tiga tabung reaksi dan tempatkan pada rak tabung  reaksi.

3.      Masukkan 1 ml NB (Nutrien Broth) ke dalam ketiga tabung reaksi.

4.      Masukkan bakteri E. Coli ke dalam ketiga tabung reaksi kemudian celupkan sehingga sampai terjadi kekeruhan.

5.      Tutup ketiga tabung reaksi dengan kapas kemudian diberi label.

6.      Tabung no. 1 dimasukkan ke dalam suhu ruang dengan suhu 30oC

7.      Tabung no. 2 dimasukkan ke dalam incubator dengan suhu 34oC

8.      Tabung no. 3 dimasukkan ke dalam kulkas dengan suhu 0-20oC

9.      Ketiganya didiamkan selama 2 x 24 jam.

10.  Kembalikan alat dan bahan praktikum pada tempatnya.

B.     Pengaruh Sinar Ultraviolet

1.      Sediakan alat dan bahan praktikum

2.      Masukkan bakteri E. Coli pada cawan petri yang berisi media Na dengan goresan kuadran.

3.      masukkan media biakan kedalam alat radiasi Ultraviolet selama 10 menit dengan panjang gelombang 365 Nm.

4.      Masukkan ke dalam incubator dengan suhu 34oC dengan cara posisi cawan petri dibalik.

5.      Incubasi selama 2 x 24 jam.

6.      Kembalikan alat dan bahan praktikum pada tempatnya.

 

 

 

 

 

BAB IV

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 

4.1  Hasil Praktikum

 

            Adapun hasil praktikum yang diperoleh adalah sebagai berikut:

 

1.      Hasil pengamatan pengaruh suhu

No

Perlakuan (Inkubasi)

Hasil

1

Inkubator

++

2

Suhu Ruang

+

3

Kulkas

-

           

2.      Hasil Pengamatan Pengaruh Radiasi Sinar UV

No

Perlakuan (waktu/panjang gelombang)

Hasil

1

Kontrol

+

2

10 menit/365 Nm

+

3

15 menit/365 Nm

+++

 

Keterangan :

-                     : Tidak Tumbuh

+               : Sedikit

++             : Sedang

+++           : Banyak

 

4.2  Pembahasan

Pada percobaan kali ini dilakukan percobaan bagaimana pengaruh lingkungan  terhadap pertumbuhan mikroba. Adapun hal-hal yang diamati yaitu pengaruh suhu dan pengaruh sinar ultraviolet. Mikroba seperti makhluk hidup lainnya memerlukan nutrisi pertumbuhan. Pengetahuan akan nutrisi pertumbuhan ini akan membantu di dalam mengkultivasi, mengisolasi, dan mengidentifikasi mikroba. Mikroba memiliki karakteristik dan ciri yang berbeda-beda di dalam persyaratan pertumbuhannya. Ada mikroba yang bisa hidup hanya pada media yang mengandung sulfur dan ada pula yang tidak mampu hidup dan seterusnya. Karakteristik persyaratan pertumbuhan mikroba inilah yang menyebabkan bermacam-macamnya media penunjang pertumbuhan mikroba.

 

Di dalam mikrobiologi, media diartikan sebagai bahan yang terdiri atas campuran nutrisi atau zat-zat hara (nutrien) yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme di atas atau di dalamnya. Selain itu, media juda dapat digunakan untuk isolasi, perbanyakan, pengujian sifat-sifat fisiologis dan biokimia, serta perhitungan jumlah mikoorganisme. Ada berbagai macam jenis media pertumbuhan mikroba. Berdasarkan sumbernya, media di bagi atas dua yaitu media sintetik dan media alami.

 

Dalam percobaan ini, medium yang digunakan untuk pertumbuhan mikroba adalah Nutrien Broth dan media Na. Perbedaan pertumbuhan mikroba sangat ditentukan dengan perlakuan yang diberikan, baik itu perlakuan dari analis atau perlakuan fisiko kimia yang diberikan untuk mengamati kondisi optimum pertumbuhan mikroba.

 

Setiap spesies mikroba memiliki aktivitas yang berbeda-beda dalam melakukan pertumbuhan. Pertumbuhan mikroba diartikan sebagai pembelahan sel atau semakin banyaknya organisme yang terbentuk. Mikroba akan semakin cepat pertumbuhannya apabila ia diinkubasi dalam suasana yang disukai oleh mikroba. Kondisi pertumbuhan suatu mikroba tidak akan lepas dari faktor fisiko-kimia, seperti pH, suhu, tekanan, salinitas, kandungan nutrisi media, sterilitas media, kontaminan dan paparan radiasi yang bersifat inhibitor.

 

Percobaan ini bertujuan untuk mengamati tentang bagaimana pertumbuhan mikroba yang dibiakkan dalam media yang divariasikan suhu dan radiasi sinar UV. Berdasarkan suhu optimum untuk pertumbuhan maka dapat dikelompokan menjadi 3 yaitu : 1. Psikrofilik (0-20oC), 2. Mesofilik (20-50oC), 3. Termofilik (50-60oC). Suhu merupakan faktor lingkungan yang sangat menentukan kehidupan mikroorganisme, pengaruh suhu berhubungan dengan aktivitas enzim. Suhu rendah menyebabkan aktiivtas enzim menurun dan jika suhu terlalu tinggi dapat mendenaturasi enzim. Sehingga enzim akan rusak dan tidak dapat bekerja untuk mensintesis zat-zat yang dibutuhkan mikroba. Dalam percobaan yang dilakukan variasi kondisi yang diberikan pada mikroba di waktu inkubasinya adalah pada suhu kamar 30oC. Dari hasil percobaan ini diketahui kondisi optimum mikroba sampel untuk tumbuh pada suhu 34oC, dimana pada suhu tersebut media tampak keruh, kekeruhan menandakan banyaknya mikroba yang tumbuh dalam media tersebut.

 

Di prosedur kedua ingin dilihat pengaruh pemaparan sinar UV terhadap pertumbuhan mikroba di media, variasi waktu pemaparan dilakukan selama 10 menit dan 15 menit. Pada dasarnya sinar UV memiliki panjang gelombang 365 Nm dan dapat membunuh mikroba dengan memaparkan radiasi yang diserap oleh asam nukleat, asam nukleat merupakan DNA bagi mikroba sehingga apabila DNA rusak maka mikroba tidak dapat melakukan pembelahan dan akhirnya mati. Hipotesis awal yang dapat diambil adalah pertumbuhan mikroba akan semakin menurun seiring dengan lamanya mikroba dipaparkan oleh sinar UV.

 

Hasil yang diperoleh pada percobaan menunjukkan ada perbedaan terhadap mikroba yang telah dipaparkan sinar UV dengan variasi waktu tersebut, bahkan mikroba dapat tumbuh dengan subur di dua media. Hal ini diakibatkan terjadinya kesalahan praktikan dalam melakukan prosedur sehingga tidak diperoleh hasil sesuai teori.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

 

PENUTUP

 

5.1  Kesimpulan

 

Berdasarkan praktikum yang sudah dilaksanakan dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1.      Semua mikroorganisme memerlukan kondisi lingkungan tertentu untuk

Pertumbuhan dan perbanyakannya.

2.      Tiap-tiap mikroorganisme memiliki suhu pertumbuhan maksimal, suhu pertumbuhan minimal dan suhu pertumbuhan optimal, yaitu suhu yang memberikan pertumbuhan terbaik dan perbanyakan diri tercepat.

3.      Mikroorganisme dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok berdasarkan suhu pertumbuhan yang diperlukannya yaitu:

a)      Mikroorganisme yang mempunyai suhu optimum antara 0-20oC disebut psikofil.

b)      Mikroorganisme yang mempunyai suhu optimum antara 20-50oC

c)      Mikroorganisme yang mempunyai suhu optimum antara 50-100oC disebut thermofil.

4.      Faktor lingkungan yang dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroba diantaranya adalah suhu, tekanan osmotik, sinar ultraviolet, dan pH.

      

       5.2  Saran

Untuk mendapatkan hasil praktikum yang baik diharapkan kepada semua praktikan dating tepat waktu, mengikuti praktikum sesuai dengan arahan dari co. assisten dan tata tertib yang ada dan memperhatikan keselamatan kerja selama kegiatan praktikum berlangsung.

 

ACARA V

 

ANALISIS KUANTITATIF

MIKROBA

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1    Latar Belakang

 

                Tanah, air dan udara merupakan tempat atau sarang mikroba. Untuk mengetahui serta menghitung jumlah sel mikroba yang terkandung pada tempat-tempat tersebut tidaklah mudah. Terdapat tahapan serta teknik tertentu untuk dapat menghitung jumlah mikroba yang terkandung dalam suatu suspensi.

               

                Dalam praktikum kali ini, dilakukan metode perhitungan, namun sebelum melakukan perhitungan dilakukan pengenceran untuk memperkecil jumlah suspensi mikroba. Terdapat dua cara dalam memperkecil jumlah suspensi mikroba, yaitu metode hitungan cawan (Technique Plate Count/TPC) dan metode hitungan ”Most       Probable Number”/MPN.

               

                Pemahaman tentang satuan dalam menghitung sel mikroba khususnya bakteri adalah sangat penting. Pada hasil akhir penghitungan bakteri pada cawan digunakan satuan CFU’s/volume atau berat. CFU’s adalah singkatan dari Coloni Forming Unit’s yang artinya unit-unit/satuan pembentuk koloni. Yang dimaksud satuan pembentuk koloni adalah sel tunggal atau sekumpulan sel yang jika ditumbuhkan dalam cawan akan membentuk satu koloni tunggal.

 

1.2  Tujuan Praktikum

·         Mahasiswa dapat mengetahui jumlah mikroba dalam sampel dengan metode SPC (Standar Plate Count).

·         Mahasiswa dapat mengetahui bagaimana cara menghitung jumlah koloni bakteri.

 

BAB II

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

                 Di dalam suatu populasi bakteri tidak semua sel mampu hidup terus, yang di anggap sebagai sel hidup adalah sel yang mampu membentuk koloni di dalam agar biak atau membentuk suspensi dalam larutan biak. Sel-sel yang mampu hidup terus inilah yang dihitung dengan berbagai metode untuk menetapkan jumlah sel hidup (Schlegel, 1994).

                

                 Perhitungan kelompok bakteri Coli mempergunakan JPT (jumlah perkiraan terdekat) MPN (Most Probable Number), dengan jumlah 3-3-3 atau 5-5-5 tanpa memperhatikan apakah jenis-jenis di dalam kelompok tersebut termasuk Coli fekal/FCB (Fecal Coliform Bacterial) ataupun non-FCB. Perbedaan kedua kelompok tersebut dilakukan berdasarkan temperature inkubasi, yaitu untuk FCB (42 ± 1oC) dan untuk non-FCB (37 ± 1oC) (Suriawiria, 1992).

                

 

BAB III

 

MATERI DAN METODE PRAKTIKUM

 

3.1  Materi Praktikum

A.  Alat Praktikum

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah :

1.      Tabung Reaksi

2.      Pipet

3.      Cawan petri

4.      Kertas label

5.      Incubator

6.      Kapas

     B.  Bahan Praktikum

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :

1.      NACL

2.      Media NA

3.      Sampel (kuning telur yang sudah di pasteurisasi dengan suhu 37O C selama 5 menit)

 

 

3.2  Metode Praktikum

 

A.    Cara pengenceran

1.      Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan

2.      Siapkan 5 tabung reaksi

3.      Tabung no.1 berisi kuning telur yang sudah di pasteurisasi dengan suhu 37oC selam 5 menit

4.      Tabung no.2,3,4 dan 5 dimasukan NaCl fisiologis sebanyak 9 ml

5.      Dari tabung no. 1 yang berisi kuning telur diambil 1 ml dengan pipet kemudian masukkan pada tabung no. 2 dan dicampur sampai homogen.

6.      Dari tabung no. 2 diambil 1 ml kemudian masukkan pada tabung no. 3 dan dicampur sampai homogen.

7.      Begitu seterusnya dilakukan perlakuan yang sama terhadap tabung no. 3,4 dan 5.

8.      Tentukan dua dari empat tabung yang akan digunakan

9.      Siapkan Petridis kemudian ambil 1 ml dari ke 2 tabung tersebut dan tuangkan ke dalam Petridis.

10.  Campurkan media Na (Nutrian Agar) dengan suhu 45oC  kemudian tuangkan ke dalam Petridis

11.  Letakkan Petridis pada bidang datar dan goyangkan perlahan-lahan sampai membeku

12.  Beri label kemudian simpan pada incubator selama 2 x 24 jam dengan posisi terbalik

13.  Bersihkan dan kembalikan alat dan bahan pada tempatnya.

 

B.     Cara menghitung jumlah koloni

1.      Setelah incubasi selama 2 x 24 jam kemudian kita menghitung jumlah koloni dengan bantuan alat coloni counter

2.      Pada saat menghitung jumlah koloni posisi Petridis dalam keadaan terbalik

3.      Tekan pada bagian dimana tumbuhnya koloni dengan menggunakan alat pada coloni counter

4.      Jika koloni berdempetan tetap dihitung satu koloni

 

BAB IV

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 

4.1  Hasil Praktikum

                 Adapun Hasil Praktikum yang diperoleh adalah sebagai berikut:

1.      Hasil penghitungan jumlah bakteri

No

Sampel

Pengenceran

Jumlah Koloni

1

Kuning telur Fasteorisasi 37oC selama 5 menit

10-1

205

2

Kuning telur Fasteorisasi 37oC selama 5 menit

10-2

257

3

Kuning telur Fasteorisasi 37oC selama 5 menit

10-3

275

 

2.      Cara Penghitungan :

Rumus: ∑ per ml = ∑ koloni x 1/FP (Faktor Pengencer)

 

1.      Diketehui :

Jumlah koloni : 205

Faktor Pengencer : 10-1

Jawab :

Rumus: ∑ per ml = ∑ koloni x 1/FP (Faktor Pengencer)

∑ per ml = 205 x 1/10-1

                = 205 x 101 CFU/ml

                = 20,5 dibulatkan menjadi 21 x 102 CFU/ml

2.      Diketehui :

Jumlah koloni : 257

Faktor Pengencer : 10-2

Jawab :

Rumus: ∑ per ml = ∑ koloni x 1/FP (Faktor Pengencer)

∑ per ml = 257 x 1/10-2

                = 257 x 102 CFU/ml

                = 257 dibulatkan menjadi 257 x 102 CFU/ml

 

3.      Diketehui :

Jumlah koloni      : 275

Faktor Pengencer : 10-3

Jawab :

Rumus: ∑ per ml = ∑ koloni x 1/FP (Faktor Pengencer)

 ∑ per ml = 275 x 1/10-3

                = 275 x 103 CFU/ml

                = 275 x 103 CFU/m

4.2  Pembahasan

 

                 Dalam praktikum ini dilakukan percobaan Analisis Kuantitatif Mikroba, dengan sampel kuning telur yang dipasteurisasi pada suhu 37oC selama 5 menit. Sebelum melakukan perhitungan dilakukan pengenceran untuk memperkecil jumlah suspensi mikroba. Terdapat dua cara dalam memperkecil jumlah suspensi mikroba, yaitu metode hitungan cawan (Technique Plate Count/TPC) dan metode hitungan ”Most Probable Number”/MPN.

                

                 Di dalam suatu populasi bakteri tidak semua sel mampu hidup terus, yang di anggap sebagai sel hidup adalah sel yang mampu membentuk koloni di dalam agar biak atau membentuk suspensi dalam larutan biak. Sel-sel yang mampu hidup terus inilah yang dihitung dengan berbagai metode untuk menetapkan jumlah sel hidup

Banyak tersedia metode untuk menganalisa jumlah mikroorganisme dalam suatu sampel, diantaranya adalah plate count (spread plate, pour plate, spiral plate), MPN, menghitung langsung dengan Petroff Hausser ataupun cara lainnya (misalnya aktivitas metabolik, turbidimetri, berat kering dll.). Namun dalam percobaan ini lebih ditekankan pada metode yang memerlukan penghitungan koloni pada cawan petri, seperti membrane filtration, spread plate, pour plate.

 

                 Pemahaman tentang satuan dalam menghitung sel mikroba khususnya bakteri adalah sangat penting. Pada hasil akhir penghitungan bakteri pada cawan digunakan satuan CFU’s/volume atau berat. CFU’s adalah singkatan dari Coloni Forming Unit’s yang artinya unit-unit / satuan pembentuk koloni, yang dimaksud satuan pembentuk koloni adalah sel tunggal atau sekumpulan sel yang jika ditumbuhkan dalam cawan akan membentuk satu koloni tunggal.

 

                 Pada dasarnya sel tersebar homogen pada sampel, tetapi ada jenis bakteri yang memang pembelahan selnya dapat terpisah baik sehingga tersebar merata tiap sel dan ada pula bakteri yang setelah membelah sel anakan masih menempel pada induknya, seperti halnya yang terjadi pada streptococcus, diplococcus, sarcina dll. sehingga penyebarannya berkelompok-kelompok. Pada jenis yang seperti ini jika tersebar merata dalam kelompok-kelompok sel maka pertumbuhan menjadi koloni tunggal bukan berasal dari satu sel saja melainkan dari beberapa sel.

 

 

BAB V

 

PENUTUP

 

5.1  Kesimpulan

 

Berdasarkan praktikum yang sudah dilaksanakan dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1.      Di dalam suatu populasi bakteri tidak semua sel mampu hidup terus, yang di anggap sebagai sel hidup adalah sel yang mampu membentuk koloni di dalam agar biak atau membentuk suspensi dalam larutan biak. Sel-sel yang mampu hidup terus inilah yang dihitung dengan berbagai metode untuk menetapkan jumlah sel hidup.

2.      Berbagai metode untuk menetapkan jumlah sel hidup, Metode Penghitungan tersebut adalah :

a)      Metode hitung bakteri

b)      Metode total bakteri hidup dan mati

c)      Metode “pour plate”

d)     Metode “spread plate”

e)      Metode “Most Probable Plate”

3.      Jumlah koloni bakteri yang hidup juga dipengaruhi oleh pengencernya.

 

 

5.2  Saran

 

Untuk mendapatkan hasil praktikum yang baik diharapkan kepada semua praktikan datang tepat waktu, mengikuti praktikum sesuai dengan arahan dari co. assisten dan tata tertib yang ada dan memperhatikan keselamatan kerja selama kegiatan praktikum berlangsung.

 

ACARA VI

 

PENGECATAN GRAM

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

                

                 Metode pengecatan pertama kali ditemukan oleh Christian Gram, pada tahun 1884. Dengan metode pengecatan Gram, bakteri dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu bakteri Gram positif dan Gram negatif berdasarkan reaksi atau sifat bakteri terhadap cat tersebut. Reaksi atau sifat bakteri tersebut ditentukan oleh komposisi dinding selnya. Oleh karena itu, pengecatan Gram tidak bisa dilakukan       pada mikroorganisme yang tidak mempunyai dinding sel seperti Mycoplasma sp.     Bakteri yang dapat mengikat cat, menjadi berwarana violet jika dilihat dengan mikroskop, adalah bakteri gram positif. Bakteri yang lain yang tidak dapat mengikat cat adalah bakteri gram negatif dan nampak berwarna merah muda.

                

                 Pengecatan Gram merupakan salah satu teknik pengecatan yang dikerjakan di laboratorium mikrobiologi untuk kepentingan identifikasi mikroorganisme. Morfologi mikroskopik mikroorganisme yang diperiksa dan sifatnya yang khas terhadap pengecatan tertentu (pengecatan Gram) dapat digunakan untuk identifikasi awal. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan cepat dan biaya murah serta, dalam kasus tertentu, dapat membantu dokter untuk memulai terapi suatu penyakit tanpa menunggu hasil kultur.

           

1.2  Tujuan Praktikum

·         Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami morfologi bakteri dengan cara melakukan pengecatan.

·         Mahasiswa dapat mengetahui cat yang umum dipakai dalam pengecatan bakteri yaitu pengecatan Gram.

·         Mahasiswa dapat mengetahui perbedaan antara bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

                 Berdasarkan tehnik pengecatan gram, dibagi menjadi bakteri gram positif (dinding sel peptidoglikan tebal) dan gram negatif ( dinding sel peptidoglikan tipis dan tertutup oleh sebuah lapisan lipopolisakarida). Christian gram, bakteriolog Denmark, pada tahun 1843 mengelompokkan bakteri menjadi dua golongan berdasarkan reaksi pengecatan. Kedua golongan tersebut, yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Bakteri gram positif adalah bakteri yang tidak dapat dihilangkan warnanya dengan etil alkohol 95% setelah pengecatan dengan violet dan iodine menghasilkan warna ungu. Bakteri gram negatif adalah bakteri yang warnanya mudah dihilangkan dengan cara sama sehingga sulit dilihat oleh mikroskop, oleh karena itu perlu pengecatan counterstain untuk memunculkan warna merah sehingga dapat dilihat oleh mikroskop (Sudjino, 2007).

                

                 Sel bakteri secara keseluruhan atau bagian dari sel memungkinkan untuk di cat dengan berbagai cat atau warna. Kemampuannya untuk mengikat cat tergantung atas spesies bakteri. Cat yang umum dipakai adalah cat Gram. Bakteri yang dapat mengikat cat, menjadi warna violet jika dilihat dengan mikroskop adalah bakteri Gram positif, bakteri yang lain yang tidak dapat mengikat cat adalah bakteri Gram negatif dan Nampak berwarana merah muda (Gaman, 1992).

 

                

BAB III

 

MATERI DAN METODE PRAKTIKUM

 

3.1  Materi Praktikum

A.  Alat Praktikum

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah :

1.      Tabung Reaksi

2.      Pipet

3.      Cawan petri

4.      Kertas label

5.      Incubator

6.      Kapas

7.      Slide Glass

8.      Ose

9.      Lampu Bunsent

10.  Mikroskop Cahaya

11.  Jembatan Pengecatan

     B.  Bahan Praktikum

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :

1.      NACL

2.      Media NA

3.      Sampel (Kuning telur yang sudah di pasteurisasi dengan suhu 37O C selama 5 menit)

4.      Crystal Violet (Cat Dasar)

5.      Cairan Lugol (Cat Penguat)

6.      Etanol 96%

7.      Vuchen

 

3.2  Metode Praktikum

 

1.      Siapkan alat dan bahan

2.      Ambil satu tetes NaCl fisiologis dengan memakai pipet kemudian teteskan pada slide.

3.      Ambil biakan bakteri atau mikroba (satu mata ose) kemudian campur dengan merata dengan NaCl, kemudian setelah tercampur lakukan fiksasi (pemijaran) di atas api, panaskan sampai mengering agar mikroba mati.

4.      Setelah itu lakukan pengecatan dengan:

a.       Gentian violet atau Kristal violet yang berguna sebagai cat dasar

Caranya:

ü  preparat yang sudah kering letakkan pada jembatan pengecatan, dan teteskan 1 tetes kemudian ratakan dan diamkan selama satu menit

ü  lakukan pencucian dengan air mengalir dan tiriskan

b.      pengecatan dengan lugol sebagai cat penguat dengan cara yang sama seperti pada pengecatan pertama.

c.       Pengecatan dengan Etanol 96 % sebagai  cat peluntur dengan cara yang sama seperti pada pengecatan sebelumnya dengan waktu 15 detik

d.      Pengecatan dengan vuchin dengan cara sama seperti pengecatan sebelumnya dengan waktu 90 detik atau 2 menit

5.      Lakukan pengeringan dengan diangin-anginkan sampai kering

6.      Lakukan pemeriksaan warna morfologi morfologi di bawah mikroskop cahaya dengan  pembesaran 100x oil emertion sebanyak satu tetes untuk memperjelas objek.

7.      Bersihkan dan kembalikan alat dan bahan pada tempatnya.

 

 

BAB IV

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1  Hasil Praktikum

Hasil pengamatan dengan mikroskop (pembesaran 100 x dan ditambahkan oil imersil sebanyak satu tetes).

 

4.2  Pembahasan

                 Dalam praktikum ini dilakukan percobaan mengenai Pengecatan Gram. Metode pengecatan pertama kali ditemukan oleh Christian Gram, pada tahun 1884. Pengecatan Gram merupakan salah satu teknik pengecatan yang dikerjakan di laboratorium mikrobiologi untuk kepentingan identifikasi mikroorganisme. Morfologi mikroskopik mikroorganisme yang diperiksa dan sifatnya yang khas terhadap pengecatan tertentu (pengecatan Gram) dapat digunakan untuk identifikasi awal.

 

                 Dalam pewarnaan mikroba, dapat digunakan satu jenis zat pewarna, cara ini disebut pewarna sederhana. Zat-zat warna yang biasa digunakan untuk pewarna sederhana misalnya biru methilen. Pewarna bakteri dapat dibedakan atas beberapa golongan yaitu : pewarnaan sederhana, pewarnaan diferensial, pewarnaan structural, dan pewarnaan untuk menguji adanya komponen tertentu di dalam sel.

                 Dalam praktikum ini dilakukan empat kali pengecatan yaitu: cristal violet yang berfungsi sebagai cat dasar, setelah itu pengecatan dilakukan dengan cairan lugol yang berfungsi sebagai cat penguat kemudian dengan etanol 96% sebagai cat peluntur dan pengecatan dengan vuchin yang berfungsi sebagai cat penutup.

                 Sel bakteri secara keseluruhan atau bagian dari sel memungkinkan untuk di cat dengan berbagai cat atau warna. Kemampuannya untuk mengikat cat tergantung atas spesies bakteri. Cat yang umum dipakai adalah cat Gram. Dengan metode pengecatan Gram, bakteri dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu bakteri Gram positif dan Gram negatif berdasarkan reaksi atau sifat bakteri terhadap cat tersebut. Reaksi atau sifat bakteri tersebut ditentukan oleh komposisi dinding selnya. Oleh karena itu, pengecatan Gram tidak bisa dilakukan pada mikroorganisme yang tidak mempunyai dinding sel seperti Mycoplasma sp.

 

                 Setelah melakukan praktikum dan diamati dengan mikroskop dengan pembesaran 100 x dan ditambahkan oil imertion sebanyak satu tetes untuk memperjelas objek pada mikroskop sehingga dihasilkan bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Bakteri yang dapat mengikat cat menjadi berwarana violet jika dilihat dengan mikroskop, adalah bakteri gram positif. Bakteri yang lain yang tidak dapat mengikat cat adalah bakteri gram negatif dan nampak berwarna merah muda

 

 

BAB V

 

PENUTUP

 

 

5.1  Kesimpulan

 

Berdasarkan praktikum yang sudah dilaksanakan dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1.      Bakteri dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu bakteri Gram positif dan Gram negatif berdasarkan reaksi atau sifat bakteri terhadap pengecatannya.

2.      Bakteri yang dapat mengikat cat, menjadi warna violet jika dilihat dengan mikroskop adalah bakteri Gram positif dan bakteri yang lain yang tidak dapat mengikat cat adalah bakteri Gram negatif dan nampak berwarana merah muda.

 

 

5.2  Saran

 

Untuk mendapatkan hasil praktikum yang baik diharapkan kepada semua praktikan datang tepat waktu, mengikuti praktikum sesuai dengan arahan dari co. assisten dan tata tertib yang ada dan memperhatikan keselamatan kerja selama kegiatan praktikum berlangsung.

 

 

 

 

 

 





























Selasa, 12 November 2013

MAKALAH PERGAULAN GENERASI MUDA


MAKALAH 
PERGAULAN GENERASI MUDA 

        Berdasarkan hasil survei Komnas Anak bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di 12 provinsi pada 2007 terungkap sebanyak 93,7% anak SMP dan SMU yang disurvei mengaku pernah melakukan ciuman, petting, dan oral seks. Dan, sebanyak 62,7% anak SMP yang diteliti mengaku sudah tidak perawan. Serta 21,2% remaja SMA yang disurvei mengaku pernah melakukan aborsi. Dan lagi, 97% pelajar SMP dan SMA yang disurvei mengaku suka menonton film porno (Media Indonesia,19/7/08)
        Hal itu diperkuat dengan hasil survei yang dilansir DKT Indonesia yang menyatakan bahwa 39 persen anak baru gede (ABG) kota besar pernah melakukan seks bebas. Persentase tersebut diperoleh dari survei yang dilakukan oleh yayasan afiliasi dari DKT Internasional yang berkantor di Washington, Amerika, terhadap remaja dan kaum muda berusia antara 15-25 tahun. Survei yang dilakukan pada Mei 2011 itu dilakukan dengan cara wawancara langsung terhadap 663 responden di 5 kota besar di Indonesia, yaitu Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Bali. “39 persen responden ABG usia antara 15-19 tahun pernah berhubungan seksual, sisanya 61 persen berusia anatara 20-25 tahun,” ungkap Pierre Frederick, Senior Brand Manajer Sutra dan Fiesta Condoms DKT Indonesia (5/12/2011) di Jakarta. Total responden berusia 15 sampai 25 tahun semua mengaku pernah berhubungan seksual.Semua, 100 persen! Dan, mayoritas mereka melakukannya pertama kali saat usia 19 tahun.  (Republika.co.id, 12/12/2011).
    Selanjutnya, data yang diungkap lebih miris lagi. Yakni, sebanyak 88 persen hubungan seks dilakukan bersama pacar, 9 persen dengan sesama jenis (terutama wanita), dan 8 persen dengan PSK (untuk pria). Umumnya mereka melakukan zina di tempat kos (33 persen), hotel atau motel (28 persen), sementara rumah 24 persen. Lama pacaran mereka sebelum berhubungan seksual, rata-rata SATU tahun.
        Data tersebut tak pelak, menambah miris dan keprihatinan kita akan perilaku seksual remaja kita yang semakin hari semakin liberal saja. Berbagai analisa pun dilakukan. Salah satu pendapat yang kemudian cukup mengemuka adalah bahwa hal tersebut terjadi karena kurangnya informasi yang dimiliki oleh remaja tentang kesehatan reproduksi mereka sehingga mereka melakukan perilaku seksual yang beresiko pada terjadinya kehamilan tidak diinginkan dengan berbagai konsekuensinya ataupun beresiko pada tertularnya penyakit-penyakit menular seksual. Dari asumsi ini, maka digencarkanlah upaya pemberian informasi seputar kesehatan reproduksi kepada remaja dengan bungkus ’Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja’ atau yang biasa disingkat KRR.
        Target dari Pendidikan KRR ini adalah untuk mewujudkan perilaku seksual remaja yang aman dan sehat. Perilaku seksual remaja yang aman artinya perilaku seksual remaja yang tidak mengantarkan mereka pada terjadinya kehamilan tidak diinginkan berikut resiko yang menyertainya. Sehat, artinya perilaku seksual remaja tersebut tidak mengantarkan remaja tertular penyakit menular seksual. Strategi yang dilakukan adalah mengkampanyekan perilaku seksual remaja yang aman dan sehat tersebut melalui seminar, pelatihan, talk show, buzz group, konsultasi, hingga bagi-bagi kondom. Subyek yang dilibatkan pun beragam; dari kalangan birokrat hingga para remaja yang diharapkan bisa menjadi agen penyampai pesan yang lebih mudah diterima oleh teman sebayanya. Media yang digunakan pun sangat variatif; dari brosur, leaflet, buklet, hingga game dan kuis yang memang sangat menarik bagi para remaja kita. Meski demikian variatif pelaku dan media yang digunakan, namun isi pesan yang disampaikan tetaplah sama, yaitu kampanye ABCD (Abstinensia, Be faithful, use Condom, no Drug) yang diiringi dengan implementasi kebijakan kondomisasi dan harm reduction. Sebuah kebijakan yang memang diimplementasikan di seluruh dunia, dengan digawangi UNAIDS dan WHO, termasuk di Indonesia.
        Sekilas, slogan dan kampanye yang dibawa oleh pendidikan KRR ini sangat melegakan dan ’seolah’ bisa diharapkan memperbaiki perilaku seksual remaja kita yang liberal dan penuh resiko tersebut menjadi perilaku seksual yang tidak lagi liberal dan beresiko. Itulah perilaku seksual remaja yang aman, sehat dan bertanggung jawab. Benarkah demikian ?
’Penyesatan’ di balik Slogan ’Pendidikan’
        Dikatakan sebuah tindakan adalah pendidikan, jika di dalamnya dilakukan sebuah proses untuk membuat anak didik menjadi orang yang secara kognitif menjadi tahu dari ketidaktahuannya akan sesuatu kebenaran, secara afektif kemudian menerima kebenaran tersebut dengan penuh kerelaan, dan secara psikomotor kemudian bisa kita lihat bagaimana kebenaran yang sudah dipahaminya tersebut dia implementasikan dalam perilakunya sehari-hari. Nah pertanyaan yang mestinya muncul dan harus kita jawab terlebih dahulu sebelum kita mengadopsi dan melakukan pendidikan KRR ini adalah: ”Benarkah Kampanye ABCD adalah sebuah Pendidikan bagi remaja kita?” Mari kita lihat!
Sebelum kampanye ABCD dilakukan, dalam setiap penyampaian Pendidikan KRR selalu diawali dengan mengajak remaja untuk memahami proses pubertas yang mereka alami, dengan berbagai perubahan yang terjadi pada tubuh (fisik), mental dan libido mereka. Benang merahnya adalah bahwa eksplorasi seksual pada masa pubertas ini adalah sesuatu yang wajar dilakukan oleh remaja, karena kondisi libido mereka yang memang lagi tinggi-tingginya. Namun agar tidak sampai terjatuh pada resiko mengalami kehamilan tidak diinginkan dan tertular penyakit menular seksual, yang seringkali menjatuhkan remaja kita pada resiko lain berikutnya (putus sekolah, aborsi hingga meninggal dunia pada usia muda), maka perilaku seksual mereka haruslah senantiasa ’aman’ dan ’sehat’, dengan melakukan ABCD. Dengan demikian remaja dikatakan sudah memiliki perilaku seksual yang bertanggung jawab.
        Apakah kampanye ABCD itu? A adalah Abstinensia, artinya bahwa mereka tidak boleh melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Ini adalah sebuah informasi yang benar, yang harus kita dukung kampanye dan implementasinya. Kita harus membuat remaja melihat (dengan proses edukasi dan sosialisasi) bahwa inilah satu-satunya pilihan bagi mereka, kalau mereka belum menikah. Dan bahwa melakukan seks sebelum menikah adalah kesalahan, keharaman, yang membawa kerugian tidak hanya sekarang di dunia, namun juga kelak di akhirat. Sembari kita ciptakan lingkungan yang kondusif di sekitar remaja kita agar mereka mudah untuk mencegah diri dari melakukannya, baik karena faham atau karena terpaksa (’takut’ terhadap ancaman sanksinya).
        Sayangnya, pada pendidikan KRR ini, Abstinensia (A) hanyalah salah satu opsi yang bisa diambil oleh remaja kita, dan bukannya satu-satunya opsi. Terlebih ketika dikaitkan dengan informasi awal yang mengatakan bahwa melakukan eksplorasi seksual pada masa pubertas ini adalah sesuatu yang wajar. Sehingga kalaupun ternyata mereka tidak bisa bertahan untuk memilih opsi Abstinensia (A) adalah suatu hal yang wajar juga. Karena itulah ada pilihan lain yang bisa diambil, yakni B (Be faithful) atau setialah. Pada siapa? Tentu saja kalau pertanyaan ini ditanyakan, secara teori akan kita dapatkan jawaban: setia pada suami dan istri masing-masing tentunya. Tapi, pada konteks KRR ini, benarkah yang dimaksud setia di sini adalah agar para remaja kita setia pada suami atau istri mereka? Apakah benar siswa-siswi setingkat SMP-SMA yang menjadi sasaran pendidikan KRR ini memiliki suami/istri? Tentu saja tidak!. Lalu apa maksud dari mereka harus setia di sini? Mereka harus setia pada siapa? Di titik inilah celah liberalisasi seksual di kalangan remaja kita justru dibuka oleh ’pendidikan’ ini. Karena yang dimaksudkan di sini adalah agar remaja kita setia pada pacar atau pasangan mereka. Lalu apa makna tersirat yang bisa dipahami oleh remaja kita dengan adanya pilihan ’setialah pada pasanganmu’ kalau kamu tidak bisa ’abstinensia/puasa seks’ sebelum menikah? Bukankah itu artinya adalah bahwa mereka boleh ngeseks, asalkan dengan pacarnya, dan mereka melakukannya hanya dengan pacarnya (setia) saja. Apakah ini yang disebut ’pendidikan’?Ataukah ini adalah ’penyesatan’ yang dibungkus label ’pendidikan’ ?!
        Aroma penyesatan (liberalisasi) pada pendidikan KRR ini pun lebih jelas lagi, ketika diberikan opsi berikutnya yakni use Condom (C) seandainya remaja kita (dalam melakukan eksplorasi seksualnya tadi) tidak bisa setia (baca: hanya melakukannya) dengan pacarnya. Bukankah implisitnya itu berarti kita membolehkan mereka bergonta-ganti pasangan, asalkan mereka memakai kondom. Dikatakan, kondom memiliki dual protection. Dengan kondom mereka bisa terproteksi dari kemungkinan terjadinya kehamilan tidak diinginkan, dan juga dari tertularnya penyakit menular seksual. Singkatnya, remaja kita bisa tetap memiliki perilaku seksual yang aman dan sehat (meski bergonta-ganti pasangan) dengan kondom. Jargon yang digembar-gemborkan: ‘safe sex use condom’. Pertanyaannya sekarang: Apakah ini adalah informasi yang benar ?
        Secara factual, kondom terbukti tidak mampu mencegah penularan HIV. Hal ini karena kondom terbuat dari bahan dasar latex (karet), yakni senyawa hidrokarbon dengan polimerisasi yang berarti mempunyai serat dan berpori-pori. Dengan menggunakan mikroskop elektron, terlihat tiap pori berukuran 70 mikron, yaitu 700 kali lebih besar dari ukuran HIV-1, yang hanya berdiameter 0,1 mikron. Selain itu para pemakai kondom semakin mudah terinfeksi atau menularkan karena selama proses pembuatan kondom terbentuk lubang-lubang. Terlebih lagi kondom sensitif terhadap suhu panas dan dingin, sehingga 36-38% kondom sebenarnya tidak dapat digunakan. Ini terbukti adanya peningkatan laju infeksi sehubungan dengan kampanye kondom 13-27% lebih.
        Secara rasional, di saat budaya kebebasan seks tumbuh subur, ketaqwaan yang kian tipis (bahkan mungkin tidak ada), kultur yang kian individualistis, kontrol masyarakat semakin lemah, kemiskinan yang kian menghimpit masyarakat, maraknya industri prostitusi, dan ketika seseorang tidak lagi takut dengan ancaman ’azab’ Tuhan, melainkan lebih takut kepada ancaman penyakit mematikan ataupun rasa malu karena hamil di luar nikah, maka kondomisasi dengan propaganda dual proteksinya jelas akan membuat remaja semakin berani, ’nyaman dan aman’ melakukan perzinahan. Sekalipun sebenarnya kondisi ’nyaman dan aman’ tersebut adalah semu. Mengapa semu? Karena seks bebas akan tetap dimurkai Allah SWT meskipun menggunakan kondom.
        Sementara opsi D (no Drug) disampaikan karena saat ini mulai ada trend peningkatan penularan HIV-AIDS melalui penyalahgunaan narkoba (terutama suntik). Opsi no Drug yang berarti ‘jangan pernah menggunakan narkoba’ adalah sebuah content kampanye yang benar, sebagaimana content kampanye Abstinensia (tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah). Sayangnya, lagi-lagi, kampanye ini tidak pernah berani dengan tegas mengatakan bahwa itulah satu-satunya opsi yang boleh diambil oleh remaja kita sembari kita ciptakan lingkungan kondusif agar remaja kita tidak terjerumus pada penyalahgunaan narkoba. Justru sebaliknya, belum all out mengupayakan hal tersebut, kampanye ini justru memperkenalkan ‘strategi’ baru untuk tetap bisa menggunakan narkoba namun dengan resiko yang lebih rendah ketimbang menjadi pengguna narkoba suntik (penasun). Strategi itu kita kenal dengan istilah ‘harm reduction, yakni tindakan memberikan jarum suntik steril dan subsitusi metadon bagi penyalahguna NARKOBA suntik. Benarkah upaya ini akan mengurangi risiko penularan HIV/AIDS ? Jawabannya jelas tidak. Mengapa ?
        Subsitusi adalah mengganti opiat (heroin) dengan zat yang masih merupakan sintesis dan turunan opiat itu sendiri, misalnya metadon, buphrenorphine HCL, tramadol, codein dan zat lain sejenis. Subsitusi pada hakekatnya tetap membahayakan, karena semua subsitusi tersebut tetap akan menimbulkan gangguan mental, termasuk metadon. (Hawari, D. , 2004) Selain itu metadon tetap memiliki efek adiktif. (Bagian Farmakologi. FK. UI. Jakarta.2003) Sementara itu mereka yang terjerumus pada penyalahgunaan NARKOBA termasuk para IDU pada hakikatnya sedang mengalami gangguan mental organik dan perilaku, dimana terjadi kehilangan kontrol diri yang berikutnya menjerumuskan para pengguna NARKOBA dan turunannya tersebut pada perilaku seks bebas.
        Adapun pemberian jarum suntik steril kepada penasun agar terhindar dari penularan HIV/AIDS, jelas merupakan strategi yang sangat absurd. Ketika seorang pemakai sedang ’on’ atau ’fly’ karena efek narkoba suntik tersebut, mungkinkah masih memiliki kesadaran untuk tidak mau berbagi jarum dengan teman ’senasib sepenanggungannya’?! Di saat seperti itu, masihkah mereka memiliki kesadaran yang bagus tentang bahaya berbagi jarum suntik bersama, padahal pada saat yang sama mereka sudah lupa (baca: tidak sadar lagi) bahwa memakai narkoba suntik sebagaimana yang mereka lakukan sekarang -dengan atau tanpa berbagi jarum suntik- adalah hal yang membahayakan kesehatannya?! Lagi pula, sudah menjadi hal yang dipahami bahwa mereka-mereka yang sudah terlanjur ’terperangkap’ dalam jerat gaya hidup yang rusak ini biasanya memiliki rasa kebersamaan dan solidaritas yang sangat tinggi dengan teman-temannya sesama pemakai. Dari temanlah mereka pertama kali mengenal narkoba, dan bersama teman jugalah mereka kemudian bersama-sama berpesta narkoba. Hal ini dibuktikan oleh tingginya angka kekambuhan akibat bujukan teman-teman. Dan biasanya setiap pemakai memiliki peer group dengan anggota 9-10 orang.
Simpulan dan Penutup
        Sebenarnya aroma liberalisasi ini kalau kita mau jernih dan jujur bisa kita lihat sejak dari tujuan apa yang ingin diraih dengan dilakukannya pendidikan KRR ini: ’sekedar’ mewujudkan perilaku seksual remaja yang sehat dan aman, bukan mewujudkan perilaku seksual remaja yang ’benar’. Maka standard yang dipakai bukanlah halal-haram atau benar-salah. Masalah perilaku seksual remaja ini hanya dipandang sebagai masalah medis saja. Yakni bahwa banyak remaja kita yang menjadi korban di tempat-tempat aborsi dan menjadi pengidap penyakit mematikan, meregang nyawa hingga kehilangan kesempatan untuk melaksanakan tugasnya menjadi generasi masa depan, karena itu harus diselamatkan. Caranya dengan mencegah mereka dari mengalami kehamilan tidak diinginkan (mewujudkan seks aman), dan mencegah mereka dari tertular penyakit menular seksual (mewujudkan seks sehat), tanpa melihat lebih ke akar masalah mengapa hal tersebut terjadi. Alhasil, pendidikan KRR yang diharapkan bisa merubah perilaku seksual remaja yang saat ini sudah begitu liberal tidak hanya mengalami kegagalan, namun malah menimbulkan masalah baru yakni semakin liberalnya perilaku seksual remaja kita saat ini.
        Bila dicermati secara seksama, muatan liberalisasi seks yang kental dalam kampanye ABCD ini memang tidak dapat dilepaskan dari pemikiran yang mendasari gagasan kampanye ABCD itu sendiri. Yaitu gagasan pemenuhan hak-hak reproduksi yang tidak harus dalam bingkai pernikahan. Pandangan ini disampaikan pada Konferensi Wanita di Bejing, tahun 1975 dan dikuatkan pada Konfrensi Kependudukan Dunia Tahun 1994 di Kairo (ICPD, 1994). Dari konferensi inilah bertolak strategi-strategi penanganan masalah reproduksi yang saat ini diterapkan di dunia, termasuk Indonesia.
        Sejatinya strategi-strategi tersebut, termasuk diantaranya konsep pendidikan KRR ini adalah sebuah konsep yang lahir dari paradigma berfikir yang sekuleristik, liberalistik, materialistik dan individualistik. Dikatakan liberalistik karena menjauhkan agama dari pengaturan kehidupan, termasuk pengaturan dalam memenuhi naluri seksual ini. Liberalistik karena menjadikan kebebasan individu termasuk kebebasan bertingkah laku/kebebasan mengatur kehidupan reproduksi sebagai hal yang diagung-agungkan bahkan diatas pengaturan Tuhan/agama. Materialistik karena menjadikan nilai-nilai materi dan kenikmatan fisik sebagai ukuran kebahagiaan yang harus dikejar. Individualistik karena menjadikan problematika perilaku seksual remaja ini menjadi permasalahan individu remaja itu sendiri, yang akan dianggap selesai begitu sang remaja tersebut mau menanggung akibat/resiko dari perilaku seks bebasnya.
        Dari sini, bisa kita lihat banyaknya kalangan yang menolak Konsep KRR ala ICPD ini bukanlah sebuah penolakan yang membabi-buta terhadap semua hal yang berbau ’Barat’ ataupun penolakan tanpa alasan. Akan tetapi lebih karena kesadaran akan bahaya ’penyesatan’ dan ’liberalisasi’ terhadap generasi yang ada di dalam konsep pendidikan KRR ini. Sebuah ‘penyesatan’ dan upaya ‘liberalisasi’ remaja kita yang dibungkus rapi atas nama Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja. Akankah kita menerima dan ikut-ikutan mengkampanyekannya hanya karena itulah strategi yang ditawarkan oleh UNAIDS dan WHO? Sudah saatnya negeri yang dikenal relijius ini merumuskan sendiri strategi penanganan masalah reproduksi remaja yang berparadigma Ilahiyah. Wallahu A’lam.

Selasa, 22 Oktober 2013

CARA MEMBUAT AMONIASI JERAMI PADI


TEKNIK PEMBUATAN AMONIASI  JERAMI PADI
SEBAGAI PAKAN TERNAK



Latar Belakang
Hijauan merupakan sumber pakan utama untuk ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing dan domba) Untuk meningkatan produksi perlu penyediaan hijauan pakan yang cukup baik kuantitas, kualitas maupun kontinuitasnya. Hijauan pakan ternak yang umum diberikan untuk ternak ruminansia adalah rumput-rumputan yang berasal dari padang penggembalaan atau kebun rumput, tegalan, pematang serta pinggiran jalan. 

Faktor Penghambat Penyedian Hijauan Pakan
  1. Terjadinya perubahan fungsi lahan yang sebelumnya sebagai sumber hijauan pakan menjadi lahan pemukiman, lahan untuk tanaman pangan dan tanaman industri
  2. Sumberdaya alam untuk peternakan berupa padang penggembalaan di Indonesia semakin berkurang
  3. Secara umum di Indonesia ketersediaan hijauan pakan juga dipengaruhi oleh iklim, sehingga pada musim kemarau terjadi kekurangan hijauan pakan ternak dan sebaliknya di musim hujan jumlahnya melimpah
Solusi
 
Pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan
Sumber limbah pertanian diperoleh dari komoditi tanaman pangan, dan ketersediaanya dipengaruhi oleh pola tanam dan luas areal panen dari tanaman pangan di suatu wilayah. Jenis limbah pertanian sebagai sumber pakan adalah jerami padi, jerami jagung, jerami kedelai, jerami kacang tanah, pucuk ubi kayu, serta jerami ubi jalar dll. Jerami padi merupakan salah satu limbah pertanian yang potensial untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak ruminansia Penggunaan jerami padi sebagai pakan ternak telah umum dilakukan di daerah tropik, terutama sebagai makanan ternak pada musim kemarau Penggunaan jerami padi sebagai makanan ternak mengalami kendala terutama disebabkan adanya faktor pembatas dengan nilai nutrisi yang rendah yaitu kandungan protein rendah, serat kasar tinggi, serta kecernaan rendah Pemanfaatan jerami padi sebagai pakan baru mencapai 31-39%, sedangkan yang dibakar atau dikembalikan ke tanah sebagai pupuk 36-62%, dan sekitar 7-16% digunakan untuk keperluan industri 

Kelemahan Jerami Padi
Kandungan nutrisi yang rendah, misalnya kandungan protein jerami 3-5 %, sedangkan protein rumput gajah mencapai 12-14%
Rendahnya kecernaan yang disebabkan oleh:
  1. terdapat lignin sekitar 6-7%
  2. Mengandung silikat 13 %
Silikat dan lignin ini bagaikan kaca pelapis, yang melapisi zat-zat yang berguna dan bernilai energi tinggi seperti protein, selulose, hemiselulose. Ikatan serat di dalamnya juga sangat kuat
Pengolahan Jerami Padi dengan Amoniasi Urea. Amoniasi merupakan suatu cara pengolahan jerami padi secara kimiawi dengan menggunakan gas amonia Pengadaan gas amonia mahal
Urea atau CO(NH2)2, Sumber gas amonia yang murah dan mudah diperoleh, 1 kg urea menghasilkan 0,57 kg gas amonia. Urea merupakan senyawa kimia yang mengandung + 45 % unsur nitrogen.
 
Manfaat Amoniasi
Merubah tekstur dan warna jerami yang semula keras berubah menjadi lunak dan rapuh Warna berubah dari kuning kecoklatan menjadi coklat tua Meningkatkan kadar protein, serat kasar, energi bruto (GE), tetapi menurunkan kadar bahan ekstrak tiada nitrogen (BETN) dan dinding sel Meningkatkan bahan kering, bahan organik, dinding sel, nutrien tercerna total, energi tercerna, dan konsumsi bahan kering jerami padi NH3 cairan rumen meningkat Memberikan balan nitrogen yang positif Menghambat pertumbuhan jamur Memusnahkan telur cacing yang terdapat dalam jerami. 
 
BAHAN
1. Jerami padi : (jerami yang berkualitas baik, artinya tidak busuk ataupun basah karena terendam air sawah maupun hujan)
2. Urea
3. Air
ALAT

Timbangan
Plastik
Ember
Alat Pemotong Jerami
Sendok
Alat penyiram
Prosedur Pembuatan
  1. Jerami padi ditimbang sesuai dengan jumlah yang diperlukan
  2. Dipotong-potong dengan ukuran sekitar 5-10 cm,
  3. Ditambahkan urea sebanyak 6 % dari bobot jerami padi yang digunakan. Misalnya : jumlah jerami padi yang diolah sebanyak 50 kg maka urea yang dibutuhkan sebanyak 6% x 50 kg = 3 kg,
  4. Disiapkan air bersih sebanding dengan jumlah jerami padi yang digunakan. Misalnya : jerami padi 50 kg, diperlukan air 50 liter.
  5. Disiapkan silo yang dapat dibuat dengan lubang di tanah yang disesuaikan dengan jumlah jerami padi yang diolah. Selain itu dapat pula digunakan drum atau kantong plastik. Sebelum jerami ditumpuk alas pada dasar wadah diberi plastik,
  6. Selanjutnya jerami padi yang telah dipotong-potong dimasukkan ke dalam lubang silo (dapat juga menggunakan wadah plastik, drum, lantai semen), sehingga membentuk lapisan setebal 10-20 cm,
  7. Kemudian setiap lapisan disemprot dengan larutan urea secara merata dan setelah itu disemprot dengan air bersih.
  8. Jerami padi disusun sedemikian rupa sehingga membentuk tumpukan ke atas, dan
  9. Setelah penumpukan jerami selesai, ditutup dengan rapat menggunakan plastik dan disimpan selama empat minggu (21 hari)
  10. Setelah penyimpanan, tutup dibuka, dikering anginkan dan jerami padi amoniasi dapat digunakan sebagai pakan ternak ruminansia
  11. Proses amonisi bila sempurna ditandai tekstur jerami relatif lebih mudah putus, berwarna kuning tua atau coklat dan bau monia. Untuk mengurangi bau amonia, jerami harus dianginkan selama 1-2 jam sebelum diberikan pada ternak
SELAMAT MENCOBA SEMOGA BERHASIL

Rabu, 01 Mei 2013

DAFTAR ASAM BASA KUAT DAN LEMAH





DAFTAR ASAM BASA KUAT DAN LEMAH


Asam Kuat :
1. Asam klorida (HCl)
2. Asam nitrat (HNO3)
3. Asam sulfat (H2SO4)
4. Asam bromida (HBr)
5. Asam iodida (HI)
6. Asam klorat (HClO3)
7. Asam perklorat (HClO4)

Asam Lemah :
1. Asam format (HCOOH)
2. Asam asetat (Asam cuka) (CH3COOH)
3. Asam fluorida (HF)
4. Asam karbonat (H2CO3)
5. Asam sitrat (C6H8O7)
6. Asam sianida (HCN)
7. Asam nitrit (HNO3)
8. Asam borat (H2Bo3)
9. Asam silikat (H2SIO3)
10. Asam antimonit (H2SbO3)
11. Asam antimonat (H2SbO4)
12. Asam stanat (H2SnO3)
13. Asam stanit (H2SnO2)
14. Asam plumbat (H2PbO3)
15. Asam plumbit (H2PbO4)
16. Asam oksalat (H2C2O4)
17. Asam benzoat (C6H5COOH)
18. Asam hipoklorit (HClO)
19. Asam sulfit (H2SO3)
20. Asam sulfida (H2S)
21. Asam fosfit (H3PO3)
22. Asam fosfat (H3PO4)
23. Asam arsenit (H3AsO3)
24. Asam arsenat (H3AsO4)
25. Asam flosianat (H5CN)
26. Asam finol (C6H5OH)
27. Asam askorbat (C5HO6)
28. Asam laktat (C3H5O3)

Basa Kuat :
1. Litium hidroksida (LiOH)
2. Natrium hidroksida (NaOH)
3. Kalium hidroksida (KOH)
4. Kalsium hidroksida (Ca(OH)2)
5. Rubidium hidroksida (RbOH)
6. Stronsium hidroksida (Sr(OH)2)
7. Sesium hidroksida (CsOH)
8. Barium hidroksida (Ba(OH)2)
9. Magnesium hidroksida (Mg(OH)2)
10. Berilium hidroksida Be(OH)2)

Basa Lemah :
1. Amonium hidroksida (NH4OH)
2. Aluminium hidroksida (Al(OH)3)
3. Besi (III) hidroksida (Fe(OH)3)
4. Amoniak (NH3)
5. Besi (II) hidroksida (Fe(OH)2)
6. Karbosium hidroksida (CA(OH)3)
7. Nikel hidroksida (Ni(OH)2)
8. Seng hidroksida (Zn(OH)2)
9. Kadmium hidroksida (Cd(OH)2)
10. Bismut hidroksida (Bi(OH)3)
11. Perak hidroksida (Ag(OH))
12. Emas (I) hidroksida (Au(OH))
13. Emas (III) hidroksida (Au(OH)3)
14. Tembaga (I) hidroksida (Cu(OH)2)
15. Tembaga (II) hidroksida (Cu(OH))
16. Raksa (I) hidroksida (Hg(OH))
17. Raksa (II) hidroksida (Hg(OH)2)
18. Timah (II) hidroksida (Sn(OH)2)
19. Timah (IV) hidroksida (Sn(OH)4)
20. Timbal (II) hidroksida (Pb(OH)2)
21. Mangan hidroksida (Mn(OH)2)
22. Kobalt (III) hidroksida (Co(OH)3)
23. Kobalt (II) hidroksida (Co(OH)2)
24. Anilia (C6H5NH2)
25. Dimetilamina ((CH3)2 NH)
26. Hidrasim (H2NNH2)
27. Hidroksilamida (HONH2)
28. Metilamina (CH3 NH2)
29. Urea (H2NCONH2)
30. Glukosa (C6H2O6)
31. Metil hidroksida (CH3OH)